10.09.07
Implementasi Pengelolaan Pengetahuan Untuk UKM
Howdy,
Masih jelas dalam ingatan ini bagaimana ekspresi wajah seorang Kang Edie Juandie, pengusaha kecil asal kota hujan Bogor pada suatu kesempatan….
“hmm..Johan….di Indonesia, UKM telah dipolitisir…UKM dibiarkan tetap “kecil”….jangan sampe jadi besar….cukup menengah aja…….soalnya kalo jadi besar…ntar banyak yang “dirugikan”……kan bisa-bisa ada departemen yang bubar…..makanya kita ini yang pengusaha “kecil” gak mau dibilang K-E-C-I-L……..apalagi UKM itu kan “Usaha Ker Mam”…..usaha untuk cari makan…gak mau….kami mau besar…tidak mau terus-terusan begini….“
Ya itulah ‘derita kecil’ diantara sejuta derita yang menerpa Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia………selalu dipolitisir……dan kesan untuk mengangkat derajat mereka menjadi lebih besar….”hanya sekedarnya saja“…..sangat banyak yang asal ada proyek….dan tentu saja….UKM ini menjadi lahan uang. Dan betul juga ucapan Kang Edi tadi..”kalo kita jadi besar…..tentu saja banyak yang kehilangan lahan pekerjaan“. Bisa jadi!! Tapi lahan pekerjaan siapa? Anda tentu bisa menebak apa dan siapa yang saya maksud.
Okey……sekelumit kisah diatas dan berbagai realitas di lapangan yang pernah saya temui memang mengindikasikan bahwa sebetulnya ada upaya untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing UKM yang ada di Indonesia. Tapi entahlah…….semua hanya kiasan dan hampir tidak ada yang memberikan bukti konkrit. Tetap saja UKM terjepit ditengah semakin melejitnya bahan kebutuhan pokok dan terutama….terjepit karena regulasi pemerintah yang masih kurang berpihak pada mereka.
Tapi kondisi diatas bukanlah keadaan yang perlu ditangisi dan bahkan mematahkan semangat untuk memajukan UKM untuk menjadi usaha yang besar dan layak mendapat acungan jempol..!!!
Salah satunya adalah dengan memanfaatkan pengelolaan pengetahuan pada UKM……lho kok bisa? Bukankah Pengelolaan Pengetahuan itu “hanya” milik usaha besar saja??? TIDAK.!!! Siapapun dia…asal mau berubah bisa memanfaatkan pengelolaan pengetahuan dalam proses bisnisnya. Meskipun rata-rata pendidikan pengusaha kecil menengah ini terbatas, tapi bukan berarti tidak bisa direalisasikan.
Contohnya adalah dengan memanfaatkan media internet dengan segala kedigdayaan yang dimilikinya. Dengan internet si pengusaha/UKM bisa memanfaatkan informasi yang ada … dan tentu saja ini menambah pengetahuan dan kemampuan si UKM itu. Dan bahkan lebih dari itu, UKM tersebut bisa ‘menyumbangkan’ pemikiran berdasarkan pengalaman yang dimiliki…….sekali lagi ini era PROCUMER !!!
So….apa yang perlu dilakukan?
Menurut Yoki Kuncoro, paling tidak ada 3 (tiga) aspek utama yang perlu diperhatikan dalam implementasi pengelolaan pengetahuan pada UKM (dan tentu saja bagi organisasi lainnya):
- Eksplorasi, yaitu melakukan pemetaan dalam organisasi mengenai knowledge yang dimiliki oleh setiap divisi, baik yang berhubungan dengan sumber daya manusia, produk, pasar, maupun pelanggan. Dengan begitu, maka akan mudah dilakukan proses pencarian dan pengumpulan seluruh pengetahuan yang dimiliki perusahaan maupun pengetahuan yang dikuasai oleh tiap pegawai.
- Proses pembelajaran. Pada tahap ini dilakukan cara memanfaatkan pengetahuan tersebut secara maksimal. Bisa dengan pertukaran antar individu maupun secara perorangan. Atau, bisa dilakukan melalui forum interaktif untuk berbagi pengetahuan secara online (misalnya dengan BLOG). Pada tahap ini, akan tercipta budaya pembelajaran yang semakin lama semakin kuat. Kenapa? Karena pada dasarnya setiap orang haus akan informasi dan pengetahuan. Akibatnya, perusahaan pun akan semakin kaya akan orang-orang yang kuat pengetahuannya.
- Proses mencari dan menciptakan pengetahuan baru. Tahap ini akan terjadi bila telah terjadi budaya pembelajaran yang kuat dalam perusahaan. Dan juga, kumpulan knowledge yang sebelumnya dimiliki perusahaan dalam sistem knowledge management tidak lagi mencukupi. Sehingga, tiap orang dalam perusahaan akan berusaha untuk mencari dan menemukan pengetahuan yang baru. Alhasil, kumpulan pengetahuan dalam sistem knowlegde management menjadi terus berkembang yang pada akhrinya akan menjadi sumber pengetahuan perusahaan yang lengkap dan update atau terus diperbaharui.
Apakah perusahaan Anda termasuk dalam kategori UKM? Tidak ada salahnya untuk mencoba hal ini.
09.29.07
Miskin Dokumentasi Pengetahuan
Ya…itulah “kegalauan” yang sementara ini terus menghantui perasaan ini (iihhh kok jadi puitis banget..??)…….
Gimana gak galau…… Dimana-mana orang pinter berseliweran didepan mata, berhadapan langsung dan bahkan terlibat dalam diskusi serius nan panas membicarakan berbagai hal. Tapi…..kok rasanya gersang ya….????
Sehabis diskusi … ya habis sudah…..(aahh betulkah…minjem istilah Enos di Film Denias).
Padahal barusan aku diskusi ama Doktor yang mendalami Bioinformatics, juga dengan Proffessor yang hebat dalam Ilmu Politik…….hmm…..kenapa masih tetap GALAU???
Ya…..itu dia……. dokumentasi yang terstruktur mengenai kepakaran dia ada dimana ya? Apakah seseorang dapat mencari dan menelusuri Portfolio kepakaran yang dimilikinya? Buktinya apa? Hanya setumpuk Jurnal yang mungkin sudah bercampur debu kusam? Gimana cara mengakses knowledge mereka? Bagaimana caranya….apa yang bisa diperbuat?
Hmmmmmm….
Itulah kenyataan yang sementara ini saya gumuli di kampus tercinta, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Suatu kampus yang konon katanya pernah disinggahi para punggawa-punggawa dan pemikir tingkat nasional, bahkan Internasional. Yang kini semuanya itu tinggal kenangan…………. Tapi…..sekali lagi….dimanakah Dokumentasi Pengetahuan itu semua???
Memang di perpustakaan yang rencananya akan dikembangkan (tapi sekarang entah kenapa hanya mentok di lantai 4 aja) masih bisa dijumpai dokumentasi itu..tapi….gimana orang lain yang berada di luar kampus bisa mengaksesnya dan paling tidak tau…bahwa sebetulnya di kampus UKSW masih ada pemikir2 hebat yang buah pikirannya masih mumpuni dan tidak kalah dibandingkan para pemikir populis yang sering menghiasi media tanah air (bahkan udah bukan pemikir lagi, tapi mengarah ke selebritis).
Persoalannya ternyata sangat sederhana………tidak pernah ada dokumentasi yang tersusun baik dalam suatu sistem…!!! Semuanya parsial dan sifatnya masih berupa dokumen2 kertas yang sulit disebarkan dan dipublikasikan.
Bukankah kita sekarang hidup di dunia yang semakin datar (The World is Flat – Thomas L. Friedman)……dunia sekarang datar….hampir tidak ada sekat pemisah antara satu negara dengan negara lain…dan sementara terjadi globalisasi …hehehe…kata yang sering aku dengar waktu SMP-SMA doeloe (hmmm jadi ingat aku dengan salah satu tulisanku di Manado Post medio tahun 2000 – bahwa salah satu bentuk kesejagatan adalah Kampung Kecil Bernama Dunia).
Batasan itu hampir tidak ada….dan internet dan segala fasilitas yang tersedia didalamnya serta kedigdayaannya sangat mendukung proses ini.
Jujur, saya masih mendalami apa yang disebut orang dengan KNOWLEDGE MANAGEMENT. Tapi kalau dipahami secara mudah, sebetulnya KM itu adalah suatu proses pengelolaan pengetahuan yang masih berada dalam benak manusia (berupa ide, gagasan, pengalaman, lesson learn, dll) atau tacit knowledge yang kemudian digali, dikategorisasi dan didokumentasi menjadi explicit knowledge.
Itu artinya penerapan KM di kampus UKSW sebetulnya tidak sulit dengan kondisi yang berkembang di kampus, bahwa UKSW harusnya bersyukur karena akses internet bukanlah hal yang sulit didapatkan. Bahkan GRATIS untuk para DOSEN…
Pernah terbayang gak….separuh saja dari total DOSEN UKSW yang punya BLOG…itu artinya ada ratusan bahkan RIBUAN topik dan pengetahuan yang bisa dipelajari bersama dan didiskusikan……dan…bisa di DOKUMENTASIKAN…!! Serta tentu saja bisa bermanfaat ganda, baik bagi si PRODUSEN maupun KONSUMEN informasi….ingat kita sekarang berada pada era PARTISIPATIF……era PRO-CUMER..!!!
Tidak ada media..??? Sepertinya bukan jawaban…..gak usah jauh2…..pakai BLOG saja, bisa menggunakan WordPress, Blogspot, Multiply dan lain-lain.
Tidak ada waktu menulis..??? Apakah ini alasan dari seorang dosen yang kesehariannya diperhadapkan dengan kesibukan mempersiapkan materi kuliah??? Tidak perlu jauh-jauh….tulislah apa yang sekarang menjadi topik bahasan di kelas….simple kan???
Miskin Dokumentasi Pengetahuan bisa diatasi dengan:
- Pelatihan bersama seluruh DOSEN untuk membuat dan memanfaatkan BLOG sebagai media sharing of knowledge (gak usah malu untuk belajar…bukankah belajar itu berlaku bagi siapa saja).
- Terus mengupdate tulisan maupun informasi di BLOG (kan semua tempat di kampus sudah bisa mengakses internet).
- Manfaatkan paket laptop ber-subsidi…. Laptop bukan barang pajangan apalagi untuk gaya-gayaan semata
- Berani untuk mencoba…..tidak perlu malu kalau terpaksa harus bertanya pada mahasiswa gimana cara memanfaatkan BLOG.
dan….
Mari kita ciptakan Salatiga Blogger Community (ini istilah dan cita2 STR – Mahasiswa FE UKSW).
Bersama kita bisa…!!!!!!!! (hehe…sorry bukan bentuk kampanye SBY-JK ya…)
08.30.07
Knowledge Management Video #3 Part B
Dr David Vaine of Apparently KM PLC explains how to use SQUAT analysis to identify knowledge outsourcing opportunities.
Knowledge Management Video #3 Part A
Dr David Vaine of Apparently KM PLC explains why knowledge outsourcing is a viable alternative to knowledge management.
Knowledge Management Video #2
Dr David Vaine of Apparently KM, PLC, gives some advice on techniques to solve the problem of knowledge sharing in organizations.
Knowledge Management Video #1
Berikut ini adalah penjelasan mengenai kaitan antara data, informasi dan pengetahuan dalam Manajemen Pengetahuan oleh Prof. Gervaise Germaine (Free University of Munstburg).
08.05.07
What is Knowledge Management? (Wikipedia)
Knowledge Management (‘KM’) comprises a range of practices used by organisations to identify, create, represent, and distribute knowledge for reuse, awareness and learning. It has been an established discipline since 1995 with a body of university courses and both professional and academic journals dedicated to it. Most large companies have resources dedicated to Knowledge Management, often as a part of ‘Information Technology‘ or ‘Human Resource Management‘ departments, and sometimes reporting directly to the head of the organisation. As effectively managing information is a must in any business, Knowledge Management is a multi-billion dollar world wide market.
Read more click here
Membangun Budaya yang Berpusat Pada Pengetahuan
Organisasi perlu terus mengembangkan manajemen pengetahuan sampai dapat mencapai tahapan terakhir yaitu knowledge-centric organization. Dalam kondisi ini organisasi mampu menciptakan pengetahuan (knowledge-creating organization) yang mempunyai prinsip-prinsip (Charles Leadbeater) sebagai berikur :
- Cellular – punya struktur organisasi yang adaptif tidak kaku.
- Self-managing – individu dan tim mengelola diri untuk membukan inovasi dan kreativitas.
- Entrepreneurial – kewirausahaan yang mendorong pada kemampuan individu dalam memanfaatkan peluang bagi pertumbuhan dan perubahan.
- Equitable membership and reward – mengembangkan sistem reward yang adil yang dapat menumbuhkan rasa keanggotaan.
- Deep knowledge reservoirs – punya kapabilitas dengan fokus pada keakhlian spesialist ketimbang generalist.
- The holostic company – memanfaatkan aset pengetahuan yang berada di luar struktur organisasinya.
- Collaborative leadership – berorientasi pada kerjasama untuk mengarahkan, menginformasikan nilai dan mendorong memberdayakan yang lain dalam mengelola bisnis.
Uraian di atas pada dasarnya menggambarkan tentang komponen-komponen kunci dari budaya yang berpusat pada pengetahuan, dimana di dalamnya mesti ada nilai-nilai yang jelas, prilaku pengetahuan, tempat kerja yang menumbuhkan energi, mendorong kreativitas untuk terus berkembang, serta mendukung kerjasama dan mengakui dan menghargai perbedaan. Dan semua ini bisa nyambung dalam kepemimpinan fasilitatif (fasilitative leadership) yang mampu mendorong, memampukan, dan mendukung penciptaan dan sharing pengetahuan dalam organisasi.
Sampai dengan tahun 1980-an, organisasi dikelola dengan menggunakan prinsip manajemen ilmiah dari Taylor, dimana struktur organisasi bersifat kaku dan sangat mempertahankan jalur komando, manajer bekerja untuk mengontrol bawahan agar bekerja dengan benar dan tepat waktu sesuai yang direncanakan, pimpinan puncak sangat berkuasa dan pemisahan antara atasan dan bawahan sangat tegas. Kondisi ini jelas tidak dapat dipertahankan dalam organisasi dewasa ini yang menuntut fleksibilitas dan kemampuan merespon perubahan dengan cepat. Untuk itu diperlukan perubahan dalam mengelola organisasi agar manajemen pengetahuan dapat berjalan dengan efektif.
Dalam organisasi yang berbasis pengetahuan, fleksibilitas merupakan hal yang penting, untuk dapat merespon dengan cepat perubahan yang terus menerus terjadi, oleh karena itu organisasi perlu memberi otonomi agar dapat mendorong lahirnya inovasi. Organisasi yang demikian menurut Bhrami (1996) memerlukan karakteristik sebagai berikut :
- Multiple centers (banyak pusat)
- Diverse structure (struktur yang beragam)
- Multiple alliance (aliansi jamak)
- Cosmopolitant mindsets (pola fikir kosmopolitan)
- Emphasis on flexibility (menekankan fleksibilitas).
Pada saat pengetahuan menjadi asit binis utama, maka diperlukan adanya pegawai yang khusus menangani masalah ini, Chief Knowledge Officers (CKO) yang bertugas mengembangkan hubungan dengan infrastruktur, proses, dan budaya dari managemen pengetahuan dalam organisasi, dengan rincian tanggungjawab sebagai berikut :
- Mengidentifikasi dan memprioritaskan perubahan yang perlu dibuat untuk mendorong/meningkatkan informasi dan pengetahuan organisasi
- Melaksanakan proses, infrastruktur dan prosedur organisasi guna memampukan terbangunnya dan digunakannya secara efektif basis pengetahuan perusahaan.
- Mendorong/memberdayakan seluruh staf berpartisipasi dalam membangun, menggunakan dan melindungi basis pengetahuan organisasi
- Mengidentifikasi dan mengintegrasikan pelayanan lain yang mendukung bagi sistem managemen pengetahuan organisasi.
Karena dalam manajemen pengetahuan sangat diperlukan kecepatan dalammengakses informasi, maka diperlukan juga pegawai yang khusus menangani masalah informasi ini
Dalam organisasi yang berpusat pada pengetahuan, setiap individu dalam organisasi perlu terus belajar dan sharing pengetahuan tersebut dengan individu lain dalam organisasi, karena semua lapisan dalam organisasi mempunyai peran penting dalam mengembangkan basis pengetahuan organisasi. Hal itu perlu disadari mengingat banyak pemimpin bisnis yang percaya bahwa dalam era persaingan ekonomi global, mereka perlu punya kemampuan mengkapitalisasi atas dasar skala ekonomi, sumberdaya dan bakat yang tersedia dalam perusahaan sekaligus mengembangkan organisasi yangbersifat fleksibel dan otonom. Satu hal yang penting dalam upaya tersebut adalah menjamin bahwa setiap orang dalam organisasi memainkan perannya dalam mengembangkan, sharing, dan menggunakan pengetahuan.
Peran SDM dalam membangun budaya yang berpusat pada pengetahuan
Sumberdaya manusia memegang peranan penting dalam membangun budaya yeng berpusat pada pengetahuan (knowledge-centric culture), dalam hubungan ini yang pelu diperankan oleh SDM untuk menambah nilai adalah sebagai berikut (Linda Holbeche) :
- Fokus pada pembentukan struktur yang tepat.
- Mengembangkan kepemimpinan fasilitatif.
- Membangun infrastruktut teknologi informasi.
- Membina hubungan dengan pemasok.
Bidang lain yang dapat memberi pengaruh besar adalah memampukan budaya pengetahuan, serta dapat menjadi katalis perubahan budaya, disamping itu SDM hendaknya membenatu membangun infrastruktur yang dapat diterapkan dan memerlukan ketrampilan, ini dapat dilakukan dalam konteks perlu adanya struktur dan desain organisasi, karir dan struktur karir, manajemen kinerja, mengembangkan fokus belajar bagi organisasi, dan perencanaan suksesi.
Dengan demikian SDM mempunyai peran penting dalam mendorong perkembangan organisasi menuju organisasi yang berpusat pada pengetahuan, melalui pembentukan budaya organisasi yang mendukung pembangunan dan sharing pengetahuan. Secara spesifik SDM dapat menambah nilai dengan mengambangkan program kesadaran akan pengetahuan, baik sebagai aktivitas terpisah atau dengan mengintegrasikannya dengan program pengembangan organisasi yang ada, dalam hubungan ini perlu dikomunikasikan tentang bagaimana organisasi membangun kapabilitas manajemen pengetahuannya, menjamin kepemimpinan yang tepat dan menerima dukungan pengembangan, dan juga hal-hal yang berkaitan dengan dukungan untuk membangun budaya yang mendorong pembelajaran terus menerus.
Sumber:
http://uharsputra.wordpress.com/artikel/manajemen-pengetahuan/
Pengertian Manajemen Pengetahuan
P e n d a h u l u a n
Perkembangan dewasa ini menunjukan pada makin cepatnya perubahan dalam segala bidang kehidupan, akibat dari efek globalisasi serta perkembangan teknologi informasi yang sangat akseleratif. Kondisi ini jelas telah mengakibatkan perlunya cara-cara baru dalam menyikapi semua yang terjadi agar dapat tetap survive. Penekanan akan makin pentingnya kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu respon dalam menyikapi perubahan tersebut, dan ini tentu saja memerlukan upaya-upaya untuk meningkatkan dan mengembangkan SDM.
Sehubungan dengan itu peranan ilmu pengetahuan menjadi makin menonjol, karena hanya dengan pengetahuanlah semua perubahan yang terjadi dapat disikapi dengan tepat. Ini berarti pendidikan memainkan peran penting dalam mempersiapkan SDM yang berkualitas dan kompetitif. Ketatnya kompetisi secara global khususnya dalam bidang ekonomi telah menjadikan organisasi usaha memikirkan kembali strategi pengelolaan usahanya, dan SDM yang berkualitas dengan penguasaan pengetahuannya menjadi pilihan penting yang harus dilakukan dalam konteks tersebut.
Pengetahuan telah menjadi sesuatu yang sangat menentukan, oleh karena itu perolehan dan pemanfaatannya perlu dikelola dengan baik dalam konteks peningkatan kinerja organisasi. Langkah ini dipandang sebagai sesuatu yang sangat strategis dalam menghadapi persaingan yang mengglobal, sehingga pengabaiannya akan merupakan suatu bencana bagi dunia bisnis, oleh karena itu diperlukan cara yang dapat mengintegrasikan pengetahuan itu dalam kerangka pengembangan SDM dalam organisasi. Dari sinilah istilah manajemen pengetahuan berkembang sebagai suatu bagian penting dan strategis dalam pengelolaan SDM pada Perusahaan/organisasi.
Pengetahuan memang merupakan milik individu, namun dapat dimanfaatkan oleh organisasi dengan tetap memberikan otonomi pengembangannya pada individu tersebut. Dalam hubungan ini belajar dan pembelajaran menjadi kata kunci dalam peningkatan kapasitas pengetahuan, oleh karenanya menjadikan individu sebagai pembelajar merupakan kondisi yang diperlukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kinerja organisasi melalui pengintegrasiannya dengan proses organisasi. Untuk itu organisasi perlu melakukan pengembangan dirinya menjadi organisasi pembelajar, sebab hanya dalam kondisi yang demikian individu/pegawai dapat benar-benar menjadi manusia pembelajar.
Pentingnya Learning Organization telah lama menjadi konsern para akhli organisasi, terutama semenjak terbitnya buku karya Peter Senge “The Fifth Discipline” pada tahun 1990, disamping itu organisasi-organisasi baik organisasi bisnis maupun non bisnis juga telah mencoba mengembangkan konsep tersebut dalam upaya menjadikan organisasi mereka kompetitif, dan dalam konteks itulah manajemen pengetahuan menjadi amat penting, karena dengan pengelolaan yang tepat dapat menjadi suatu kekuatan kompetitif yang tangguh yang diperlukan sekali dalam perkembangan global dewasa ini. Berikut ini akan dikemukakan makna manajemen pengetahuan dengan menggunakan rujukan utama buku yang ditulis oleh Christina Evans berjudul Managing for Knowledge, HR’s Strategic Role.
Mengelola Pengetahuan
Kehidupan di jaman informasi dimana pengetahuan dipandang sebagai aset bisnis strategis memerlukan upaya pengelolaan pengetahuan agar dapat mendorong bagi perkembangan bisnis. Aset pengetahuan mencakup :
- Aset struktural
- Merek
- Hubungan dengan pelanggan
- Hak paten
- Produk
- Proses operasi
- Aset manusia yang mencakup :
- Pengalaman pegawai
- Keterampilan pegawai
- Hubungan personal
Pengetahuan telah menjadi aset bisnis utama didorong oleh perubahan-perubahan dalam bidang teknologi dan dalam bisnis global. Perubahan ini telah menjadikan orientasi manajemen SDM yang menitik beratkan pada tangible asset bergeser pada perhatian yang lebih menitik beratkan pada intangible asset. Hal ini juga berarti bahwa comparative advantage yang berbasis Sumberdaya Alam (SDA) dalam bisnis bergeser pada competitive advantage yang berbasis kualitas SDM, dan dalam konteks inilah pengetahuan menjadi aset yang sangat penting dalam pengelolaan atau manajemen SDM.
Pengetahuan, menurut Davenport merupakan perpaduan yang cair dari pengalaman, nilai, informasi kontekstual, dan kepakaran yang memberikan kerangka berfikir untuk menilai dan memadukan pengalaman dan informasi baru. Ini berarti bahwa pengetahuan berbeda dari informasi, informasi jadi pengetahuan bila terjadi proses-proses seperti pembandingan, konsekwensi, penghubungan, dan perbincangan. Pengetahuan dapat dibagi ke dalam empat jenis yaitu a). pengetahuan tentang sesuatu; b) pengetahuan tentang mengerjakan sesuatu,; c). pengetahuan menjadi diri sendiri; dan d). pengetahuan tentang cara bekerja dengan orang lain. Sedang tingkatan pengetahuan dapat dibagi tiga yaitu : 1) mengetahui bagaimana melaksanakan; 2). Mengetahuai bagaimana memperbaiki; dan 3). Mengetahui bagaimana mengintegrasikan.
Dengan pemahaman pengetahuan seperti itu, maka manajemen pengetahuan dapat didefinisikan sebagai berikut : “proses menterjemahkan pelajaran yang dipelajari, yang ada dalam diri/pikiran seseorang menjadi informasi yang dapat digunakan setiap orang”. Dalam konteks ini profesional SDM memandang manajemen pengetahuan sebagai menjamin penngetahuan yang diperoleh dikembangkan bersama dengan orang lain dalam organisasi. Dengan demikian, pengetahuan yang dimiliki organisasi secara penuh tersedia melalui penyediaan lingkungan yang tepat, budaya, struktur dan proses guna memotivasi dan mendorong sharing pengetahuan pada setiap tingkat dalam organisasi. Jadi thema utama dari manajemden pengetahuan adalah sebagai berikut :
- Pembelajaran
- Pengembangan/sharing
- Penempatan orang di tempat yang tepat dan waktu yang tepat
- Pembuatan keputusan yang efektif
- Kreativitas
- Membuat pekerjaan jadi lebih mudah
- Mendorong tumbuhnya bisnis baru dan nilai bisnis
Adapun tahapan perkembangan manajemen pengetahuan dalam organisasi adalah sebagai berikut :
- Knowledge-chaotic (tak sadar konsep, tak ada proses informasi, dan tak ada sharing informasi).
- Knowledge-aware (sadar akan kebutuhan manajemen pengetahuan, adabeberapa proses manajemen pengetahuan, ada teknologi, ada isu tentang sharing informasi).
- Knowledge-enabled (memanfaatkan manajemen pengetahuan, mengadopsi standar, isu-isu berkaitan dengan budaya dan teknologi).
- Knowledge-managed (kerangka kerja yang terintegrasi, merealisasikan manfaat, isu-isu pada tahap sebelumnya teratasi).
- Knowledge-centric (manajemen pengetahuan merupakan bagian dari misi, nilai pengetahuan diakui dalam kapitalisasi pasar, manajemen pengetahuan terintegrasi dalam budaya)
Bagi organisasi yang ingin menerapkan manajemen pengetahuan dalam organisasinya perlu menyadari pertama, bahwa pengetahuan ada pada orang dan bukan pada sistem, meskipun sistem punya data dan informasi yang dapat membantu proses pengetahuan. Kedua, penciptaan pengetahuan merupakan proses sosial, tercipta melalui interaksi antara individu-individu dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Perubahan Peran SDM dari Operasional ke Strategik
Untuk menjadikan manajemen pengetahuan menjadi bagian dari organisasi, diperlukan pergeseran peran dari manajemen dengan orientasi SDM yang operasional/tradisional menjadi orientasi SDM yang strategis. Adapun perbedaan antara yang tradisional (manajemen personalia) dengan Manajemen SDM adalah sebagai berikut :
Karakteristik perang manajemen personel/tradisional
- Reaktif
- Advokasi pegawai
- Unit kerja/task force
- Fokus pada isu operasional
- Isu kualitatif
- Stabilitas
- Solusi taktis
- Integritas fungsi
- Orang sebagai beban/biaya
Karakteristik perang manajemen Sumberdaya Manusia (SDM)
- Proaktif
- Parner bisnis
- Fokus pada tugas dan pemberdayaan
- Fokus pada isu strategis
- Isu kuantitatif
- Perubahan konstan
- Solusi startegis
- Multi fungsi
- Orang sebagai aset
Dalam mengimplementasi Manajemen Pengetahuan, diperlukan SDM yang tidak hanya kompeten, tapi juga dapat menunjukan dan mendemonstrasikan sikap sebagai berikut (Ulrich, 2000) :
- Mentransformasikan pengetahuan ke dalam tindakan.
- Membuat pilihan berdasar informasi tentang bagaimana berinvestasi dalam praktek SDM untuk menjamin hasil bisnis.
- Berhubungan dengan rekan profesi SDM dan manajer garis dengan penuh keyakinan bahwa dia punya sesuatu yang bernilai untuk ditawarkan.
- Menunjukan keyakinan, kepastian, pengambilan resiko, dan berorientasi tindakan.
Sumber:
http://uharsputra.wordpress.com/artikel/manajemen-pengetahuan/
Berikut ini ada beberapa file yang menjelaskan pengertian dari Manajemen Pengetahuan
Pengertian Manajemen Pengetahuan (www.ilmukomputer.com)