October 31, 2007

PINDAH, PINDAH !!

Posted in Catatan Harian at 5:49 am by Johan Tambotoh

Mulai hari ini Johan Tambotoh pindah blog ke:

JohanTambotoh.Net

Sampai bertemu di sana!😀

October 9, 2007

Implementasi Pengelolaan Pengetahuan Untuk UKM

Posted in Knowledge Management, Technopreneurship tagged , at 5:23 am by Johan Tambotoh

Howdy,

Masih jelas dalam ingatan ini bagaimana ekspresi wajah seorang Kang Edie Juandie, pengusaha kecil asal kota hujan Bogor pada suatu kesempatan….

hmm..Johan….di Indonesia, UKM telah dipolitisir…UKM dibiarkan tetap “kecil”….jangan sampe jadi besar….cukup menengah aja…….soalnya kalo jadi besar…ntar banyak yang “dirugikan”……kan bisa-bisa ada departemen yang bubar…..makanya kita ini yang pengusaha “kecil” gak mau dibilang K-E-C-I-L……..apalagi UKM itu kan “Usaha Ker Mam”…..usaha untuk cari makan…gak mau….kami mau besar…tidak mau terus-terusan begini….

Ya itulah ‘derita kecil’ diantara sejuta derita yang menerpa Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia………selalu dipolitisir……dan kesan untuk mengangkat derajat mereka menjadi lebih besar….”hanya sekedarnya saja“…..sangat banyak yang asal ada proyek….dan tentu saja….UKM ini menjadi lahan uang. Dan betul juga ucapan Kang Edi tadi..”kalo kita jadi besar…..tentu saja banyak yang kehilangan lahan pekerjaan“. Bisa jadi!! Tapi lahan pekerjaan siapa? Anda tentu bisa menebak apa dan siapa yang saya maksud.

Okey……sekelumit kisah diatas dan berbagai realitas di lapangan yang pernah saya temui memang mengindikasikan bahwa sebetulnya ada upaya untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing UKM yang ada di Indonesia. Tapi entahlah…….semua hanya kiasan dan hampir tidak ada yang memberikan bukti konkrit. Tetap saja UKM terjepit ditengah semakin melejitnya bahan kebutuhan pokok dan terutama….terjepit karena regulasi pemerintah yang masih kurang berpihak pada mereka.

Tapi kondisi diatas bukanlah keadaan yang perlu ditangisi dan bahkan mematahkan semangat untuk memajukan UKM untuk menjadi usaha yang besar dan layak mendapat acungan jempol..!!!

Salah satunya adalah dengan memanfaatkan pengelolaan pengetahuan pada UKM……lho kok bisa? Bukankah Pengelolaan Pengetahuan itu “hanya” milik usaha besar saja??? TIDAK.!!! Siapapun dia…asal mau berubah bisa memanfaatkan pengelolaan pengetahuan dalam proses bisnisnya. Meskipun rata-rata pendidikan pengusaha kecil menengah ini terbatas, tapi bukan berarti tidak bisa direalisasikan.

Contohnya adalah dengan memanfaatkan media internet dengan segala kedigdayaan yang dimilikinya. Dengan internet si pengusaha/UKM bisa memanfaatkan informasi yang ada … dan tentu saja ini menambah pengetahuan dan kemampuan si UKM itu. Dan bahkan lebih dari itu, UKM tersebut bisa ‘menyumbangkan’ pemikiran berdasarkan pengalaman yang dimiliki…….sekali lagi ini era PROCUMER !!!

So….apa yang perlu dilakukan?

Menurut Yoki Kuncoro, paling tidak ada 3 (tiga) aspek utama yang perlu diperhatikan dalam implementasi pengelolaan pengetahuan pada UKM (dan tentu saja bagi organisasi lainnya):

  1. Eksplorasi, yaitu melakukan pemetaan dalam organisasi mengenai knowledge yang dimiliki oleh setiap divisi, baik yang berhubungan dengan sumber daya manusia, produk, pasar, maupun pelanggan. Dengan begitu, maka akan mudah dilakukan proses pencarian dan pengumpulan seluruh pengetahuan yang dimiliki perusahaan maupun pengetahuan yang dikuasai oleh tiap pegawai.
  2. Proses pembelajaran. Pada tahap ini dilakukan cara memanfaatkan pengetahuan tersebut secara maksimal. Bisa dengan pertukaran antar individu maupun secara perorangan. Atau, bisa dilakukan melalui forum interaktif untuk berbagi pengetahuan secara online (misalnya dengan BLOG). Pada tahap ini, akan tercipta budaya pembelajaran yang semakin lama semakin kuat. Kenapa? Karena pada dasarnya setiap orang haus akan informasi dan pengetahuan. Akibatnya, perusahaan pun akan semakin kaya akan orang-orang yang kuat pengetahuannya.
  3. Proses mencari dan menciptakan pengetahuan baru. Tahap ini akan terjadi bila telah terjadi budaya pembelajaran yang kuat dalam perusahaan. Dan juga, kumpulan knowledge yang sebelumnya dimiliki perusahaan dalam sistem knowledge management tidak lagi mencukupi. Sehingga, tiap orang dalam perusahaan akan berusaha untuk mencari dan menemukan pengetahuan yang baru. Alhasil, kumpulan pengetahuan dalam sistem knowlegde management menjadi terus berkembang yang pada akhrinya akan menjadi sumber pengetahuan perusahaan yang lengkap dan update atau terus diperbaharui.

Apakah perusahaan Anda termasuk dalam kategori UKM? Tidak ada salahnya untuk mencoba hal ini.

September 29, 2007

Miskin Dokumentasi Pengetahuan

Posted in Catatan Harian, Knowledge Management tagged at 2:26 am by Johan Tambotoh

Ya…itulah “kegalauan” yang sementara ini terus menghantui perasaan ini (iihhh kok jadi puitis banget..??)…….

Gimana gak galau…… Dimana-mana orang pinter berseliweran didepan mata, berhadapan langsung dan bahkan terlibat dalam diskusi serius nan panas membicarakan berbagai hal. Tapi…..kok rasanya gersang ya….????

Sehabis diskusi … ya habis sudah…..(aahh betulkah…minjem istilah Enos di Film Denias).

Padahal barusan aku diskusi ama Doktor yang mendalami Bioinformatics, juga dengan Proffessor yang hebat dalam Ilmu Politik…….hmm…..kenapa masih tetap GALAU???

Ya…..itu dia……. dokumentasi yang terstruktur mengenai kepakaran dia ada dimana ya? Apakah seseorang dapat mencari dan menelusuri Portfolio kepakaran yang dimilikinya? Buktinya apa? Hanya setumpuk Jurnal yang mungkin sudah bercampur debu kusam? Gimana cara mengakses knowledge mereka? Bagaimana caranya….apa yang bisa diperbuat?

Hmmmmmm….

Itulah kenyataan yang sementara ini saya gumuli di kampus tercinta, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Suatu kampus yang konon katanya pernah disinggahi para punggawa-punggawa dan pemikir tingkat nasional, bahkan Internasional. Yang kini semuanya itu tinggal kenangan…………. Tapi…..sekali lagi….dimanakah Dokumentasi Pengetahuan itu semua???

Memang di perpustakaan yang rencananya akan dikembangkan (tapi sekarang entah kenapa hanya mentok di lantai 4 aja) masih bisa dijumpai dokumentasi itu..tapi….gimana orang lain yang berada di luar kampus bisa mengaksesnya dan paling tidak tau…bahwa sebetulnya di kampus UKSW masih ada pemikir2 hebat yang buah pikirannya masih mumpuni dan tidak kalah dibandingkan para pemikir populis yang sering menghiasi media tanah air (bahkan udah bukan pemikir lagi, tapi mengarah ke selebritis).

Persoalannya ternyata sangat sederhana………tidak pernah ada dokumentasi yang tersusun baik dalam suatu sistem…!!! Semuanya parsial dan sifatnya masih berupa dokumen2 kertas yang sulit disebarkan dan dipublikasikan.

Bukankah kita sekarang hidup di dunia yang semakin datar (The World is Flat – Thomas L. Friedman)……dunia sekarang datar….hampir tidak ada sekat pemisah antara satu negara dengan negara lain…dan sementara terjadi globalisasi …hehehe…kata yang sering aku dengar waktu SMP-SMA doeloe (hmmm jadi ingat aku dengan salah satu tulisanku di Manado Post medio tahun 2000 – bahwa salah satu bentuk kesejagatan adalah Kampung Kecil Bernama Dunia).

Batasan itu hampir tidak ada….dan internet dan segala fasilitas yang tersedia didalamnya serta kedigdayaannya sangat mendukung proses ini.

Jujur, saya masih mendalami apa yang disebut orang dengan KNOWLEDGE MANAGEMENT. Tapi kalau dipahami secara mudah, sebetulnya KM itu adalah suatu proses pengelolaan pengetahuan yang masih berada dalam benak manusia (berupa ide, gagasan, pengalaman, lesson learn, dll) atau tacit knowledge yang kemudian digali, dikategorisasi dan didokumentasi menjadi explicit knowledge.

Itu artinya penerapan KM di kampus UKSW sebetulnya tidak sulit dengan kondisi yang berkembang di kampus, bahwa UKSW harusnya bersyukur karena akses internet bukanlah hal yang sulit didapatkan. Bahkan GRATIS untuk para DOSEN…

Pernah terbayang gak….separuh saja dari total DOSEN UKSW yang punya BLOG…itu artinya ada ratusan bahkan RIBUAN topik dan pengetahuan yang bisa dipelajari bersama dan didiskusikan……dan…bisa di DOKUMENTASIKAN…!! Serta tentu saja bisa bermanfaat ganda, baik bagi si PRODUSEN maupun KONSUMEN informasi….ingat kita sekarang berada pada era PARTISIPATIF……era PRO-CUMER..!!!

Tidak ada media..??? Sepertinya bukan jawaban…..gak usah jauh2…..pakai BLOG saja, bisa menggunakan WordPress, Blogspot, Multiply dan lain-lain.

Tidak ada waktu menulis..??? Apakah ini alasan dari seorang dosen yang kesehariannya diperhadapkan dengan kesibukan mempersiapkan materi kuliah??? Tidak perlu jauh-jauh….tulislah apa yang sekarang menjadi topik bahasan di kelas….simple kan???

Miskin Dokumentasi Pengetahuan bisa diatasi dengan:

  1. Pelatihan bersama seluruh DOSEN untuk membuat dan memanfaatkan BLOG sebagai media sharing of knowledge (gak usah malu untuk belajar…bukankah belajar itu berlaku bagi siapa saja).
  2. Terus mengupdate tulisan maupun informasi di BLOG (kan semua tempat di kampus sudah bisa mengakses internet).
  3. Manfaatkan paket laptop ber-subsidi…. Laptop bukan barang pajangan apalagi untuk gaya-gayaan semata
  4. Berani untuk mencoba…..tidak perlu malu kalau terpaksa harus bertanya pada mahasiswa gimana cara memanfaatkan BLOG.

dan….

Mari kita ciptakan Salatiga Blogger Community (ini istilah dan cita2 STR – Mahasiswa FE UKSW).

Bersama kita bisa…!!!!!!!! (hehe…sorry bukan bentuk kampanye SBY-JK ya…)

September 20, 2007

Menulis di Blog

Posted in Catatan Harian at 7:36 pm by Johan Tambotoh

Hallo semua,

Mohon maaf karena kesibukan dan terbatasnya akses internet di Indonesia, maka update informasi di weblog ini sangat terbatas. Akhirnya saya hanya bisa mengunduh beberapa tulisan yang terkait dengan tema dan topik yang ada.

Hanya saja dalam beberapa tulisan yang ditampilkan, saya belum sempat mengedit bahkan memberikan komentar. Memang di bagian akhir saya selalu memberikan link yang merupakan sumber informasi. Tapi, itulah…karena kadang kurang hati-hati maka banyak tulisan yang bahkan mentah2 saya salin…..hahaha….budaya copy-paste????

Sebetulnya tidak bermaksud untuk cari gampang sih …. Hanya mau mengumpulkan dan mengkategorisasi berbagai pemikiran/ide/usul yang ada menjadi suatu kumpulan tulisan dan bahkan membentuk pengetahuan.

Terima kasih buat pembaca yang telah dengan teliti memberikan kritik dan masukan. Kedepan saya akan berusaha menampilkan tulisan sendiri.

Maju terus ilmu dan pengetahuan di Indonesia……….

September 5, 2007

Mendidik Technopreneur

Posted in Technopreneurship at 5:30 pm by Johan Tambotoh

Misalkan saja Anda berusia 20-an tahun dan mengawali perusahaan internet pertama Anda. Lalu katakan 21 bulan kemudian Anda menjualnya seharga 1,65 miliar dollar AS. Apa yang terjadi berikutnya? (“Time”, ’Persons of the Year’, 2006-2007).

Kutipan di atas dari majalah Time tatkala mengisahkan situs YouTube yang fenomenal dan pendirinya, Steve Chen, Chad Hurley, dan Jawed Karim. Diperlihatkan pula bagaimana ketiga pemuda itu merancang konsep awal YouTube di garasi Chad. YouTube kemudian sukses besar pada tahun 2006. Alasannya banyak, tetapi satu yang bisa disebut khusus adalah karena ia unggul, tapi juga mudah, satu kombinasi yang langka. Anda bisa menonton video di situs tersebut tanpa perlu mengunduh perangkat lunak apa pun atau bahkan mendaftar. Di Amerika, YouTube untuk menonton video diibaratkan sama dengan Wal-Mart Supercenter untuk belanja. Semua ada di sana dan Anda tinggal masuk saja.

Ketika akhir tahun silam YouTube digelontor dengan 65.000 video baru setiap harinya, jumlah video yang bisa ditonton pun menggelembung, dari 10 juta per hari pada tahun sebelumnya, menjadi 100 juta.

Selain memperlihatkan bagaimana multiplikasi informasi terjadi, fenomena tersebut juga membuat dunia menoleh kepada sosok-sosok pendiri perusahaan. Lalu tampaklah bagaimana sosok Chad Meredith Hurley yang berdarah seni ternyata juga punya minat besar terhadap bisnis dan teknologi. Bagaimana keberhasilannya di PayPal mempertemukan dirinya dengan Steve Chen dan Jawed Karim, dua insinyur di PayPal, yang kemudian bersepakat dengan dirinya untuk mendirikan perusahaan baru (start-up). Dalam perkembangan kemudian, memang ada ketegangan dalam hubungan Karim (27) dengan kedua pendiri YouTube lainnya. Ini membuat sejarah perusahaan itu lalu ikut disederhanakan, dengan hanya disebutkan, ide pendirian YouTube muncul tahun 2005 saat Chad dan Steve kesulitan berbagi video yang mereka ambil secara online saat santap malam di apartemen Steve.

Apa pun yang terjadi di antara ketiga orang muda yang terkait dengan YouTube di atas, yang jelas YouTube berkembang menjadi perusahaan sukses yang kemudian dibeli raksasa Google, Oktober 2006 dengan nilai 1,65 miliar dollar AS.

Semestinya sukses YouTube, sebagaimana sukses Apple, Amazon, dan deretan start-up lainnya mengilhami orang muda tidak saja di Amerika, tetapi juga di belahan dunia lainnya. Namun, agar lingkungan menjadi kondusif bagi munculnya apa yang dikenal sebagai wirausahawan teknologi atau technopreneur ini rupanya dibutuhkan sejumlah syarat.

Ketika memberi kuliah perdana di Universitas Media Nusantara (UMN) di Jakarta, 3 September lalu, Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh menyebut salah satunya, yakni masa kritis. Menurut Menteri, di Indonesia memang sudah ada banyak ahli ICT (teknologi informasi dan komunikasi/TIK), tetapi jumlah itu dirasa belum mampu menimbulkan efek yang terasakan.

Menteri Nuh mengibaratkan kondisi yang ada sekarang sebagai mobil di tanjakan, tidak merosot tetapi juga tidak bisa naik.

Dari segi masa kritis, jumlah SDM TIK harus ditambah, dalam hal ini melalui pendidikan. Dalam kondisi kesenjangan digital yang sudah akut dewasa ini antara negara maju dan negara berkembang, jumlah lulusan memang harus dipacu. Para lulusan juga harus bisa menjadi orang yang mampu memengaruhi agar semakin banyak warga masyarakat yang melek TIK dan bisa memanfaatkannya.

Pendidikan kewirausahaan

Pada kesempatan yang sama, pendiri UMN Dr (HC) Jakob Oetama kembali mengulangi pentingnya pendidikan sebagaimana terkandung dalam semangat culture matters yang akhir-akhir ini sering ia kemukakan. Menurut hasil seminar Harvard yang kemudian dibukukan hasilnya, dan disunting oleh Lawrence Harrison dan Samuel Huntington (2000), nilai budaya berperan penting bagi kemajuan bangsa. Bangsa Korea (Selatan) berkembang maju dibandingkan dengan Ghana meski keduanya berada dalam kondisi serupa pada tahun 1960. Dalam pengantar buku, Huntington menyebutkan, di Korea berkembang nilai-nilai budaya yang membuatnya tumbuh maju dan di antara nilai-nilai tersebut adalah pendidikan, selain disiplin, menghargai waktu, dan berorientasi kepada kemajuan.

Seperti disampaikan Menteri Nuh, pemerintah pun berkepentingan agar pendidikan maju, masyarakat Indonesia maju. Ini antara lain coba dilakukan dengan membangun dan meluaskan jaringan komunikasi dengan Palapa Ring, yang tahun 2008 coba diwujudkan untuk wilayah Indonesia timur. Melalui program Universal Service Obligation (USO), pemerintah juga akan memperluas akses telekomunikasi bagi desa-desa di Indonesia yang berjumlah 72.000, tetapi 38.000 di antaranya masih merupakan blank spot.

Setelah ide disosialisasikan, prasarana dibangun, pendidikan diselenggarakan, lalu bagaimana dengan munculnya technopreneur? Ini tentu persoalan lain.

Pembicara lain pada kuliah perdana UMN, Indra Sosrojoyo, menyampaikan peluang yang terbuka dalam industri TIK yang dapat dipilih mahasiswa. Ia juga dengan tepat mengawali kuliah dengan bertanya, siapa yang ingin menjadi technopreneur. Dalam jawaban pertama, mahasiswa yang mengangkat tangan 25 persen, tetapi meningkat jadi sekitar 40 persen saat ia mengulangi pertanyaannya.

Pekan silam, ketika menulis tentang Iskandar Alisjahbana, kolom ini juga menyinggung pentingnya jiwa entrepreneurship. Dalam hal ini, perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi penghasil gelar ningrat akademis. Ia harus berhenti sebagai menara gading dan membuka peluang bagi civitas academica-nya untuk menumbuhkan inkubator, seperti yang dipercontohkan oleh MIT dan Stanford University di AS. Memang, tidak sedikit tentangan yang muncul menanggapi gagasan ini, dari tahun 1970-an hingga hari ini. Namun, tampaknya, ada urgensi aktual bagi pendekatan baru untuk lulusan universitas saat ekonomi masih lesu dan lapangan kerja langka dewasa ini.

Dalam konteks culture matters yang diangkat oleh Jakob Oetama, melalui praktik kewirausahaan dapat dikembangkan nilai-nilai budaya yang dibutuhkan untuk mencapai kemajuan, seperti disiplin, ulet, dan menghargai waktu.

Tepat pernyataan Menteri Nuh bahwa memiliki visi kemajuan penting. Namun, yang lebih penting lagi adalah menjawab tantangan yang ada di depan mata sekarang ini.

Oleh: Ninok Leksono

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/05/utama/3814398.htm 

August 30, 2007

Knowledge Management Video #3 Part B

Posted in Knowledge Management at 1:53 am by Johan Tambotoh

Dr David Vaine of Apparently KM PLC explains how to use SQUAT analysis to identify knowledge outsourcing opportunities.

Knowledge Management Video #3 Part A

Posted in Knowledge Management at 1:48 am by Johan Tambotoh

Dr David Vaine of Apparently KM PLC explains why knowledge outsourcing is a viable alternative to knowledge management.

Knowledge Management Video #2

Posted in Knowledge Management at 1:34 am by Johan Tambotoh

Dr David Vaine of Apparently KM, PLC, gives some advice on techniques to solve the problem of knowledge sharing in organizations.

Knowledge Management Video #1

Posted in Knowledge Management at 1:14 am by Johan Tambotoh

Berikut ini adalah penjelasan mengenai kaitan antara data, informasi dan pengetahuan dalam Manajemen Pengetahuan oleh Prof. Gervaise Germaine (Free University of Munstburg).

August 25, 2007

Sibuk…atawa sok sibuk???

Posted in Catatan Harian at 10:47 pm by Johan Tambotoh

Hello myBlog….

Akhirnya setelah sekian lama tidak terisi…..aku bisa juga!!!!

Dan memang…benar…..aku sibuk banget sekarang. Gile bener…kayak gak ada habisnya ini pekerjaan.

Selepas pekerjaan di Makassar, ternyata aku harus ke Manado dan Tomohon…ya kota kelahiranku.!! Disana ada job di UKIT, yup…ada project pembuatan Sistem Informasi Akademik Fak. Teologi UKIT. Yup, salah satu Universitas yang cukup tua di Kota Tomohon dan bahkan di Sulut. Tapi sayangnya sedang dirundung duka mendalam karena adanya perseteruan internal …. ya….apalagi kalau bukan masalah kepemimpinan.

– to be continued –

Next page